PENGGALAN KISAHKU
BIRU PUTIH YANG KONTRAS DENGAN KULITKU
TIMOR LOROSAE MEMORIES
The frist i wannaa say Thank you My Lord Jesus For Apportuniti to share my axperience walk with You, and all the blessing on live.
Tulisan ini saya persembahkan buat kakak sepupu saya yang sudah di surga alm Elsa Ataupah -Nge sebagai ungkapaan terimakasih dan kasih sayang takterhingga,Buat alm papa besar Costantin Ataupah dan alm mama besar Mariana Ataupah - sion aku mencintai Mama,,Papa dan kakak damailah di samping Bapak semawi. Kak Yoel Yessi Atauph dan kel,Kakak Meidia ataupah dan kel,Kakak Yoris Atauah dan kel kakak Fenti Ataupah dan kel Buat kak Agus Nge ,Clinton Nge, Bu'de Darto dan alm Pak'de,Mas Agung,Mas Yupi,Kel besar Nge,kel besar situmorang
kedua orang tua yang telah melahirkan aku Bpk R.CH Ataupaha dan ibu F.ransina Atauph dan keenam saudaraku, Abang MMW Ataupah,Abang NKS Ataupah ,kakak NNN Ataupah,adikku BHTN Atauph ,SMKN Ataupah. and 15 beloved Niece and grandchild ,dauther in law For all suppotring love each other until GOD coming.
to all a friends ex SMA Kristal wherever you are and speciali thanks to all theacher SMA Kristal Dili for kind love and paiten to guide us untill graduate
Terimakasih juga buat WAG MBI yang diasuh aoleh ibu Guru canik guru inspirasi NTT Bunda Lilis hepti Sutikno dan Nara sumber hebat lainnya yang sudah mendidik hingga terbitlah buku SEKOLAHKU ADALAH RUMAH KEDUA bersama ke 11 teman saya.
Pagi itu aku di drop ke Balide di Dili Timor Leste untuk mendaftar sekolah. Saat itu aku mendaftar sendiri dan menjadi awal bagiku menjadi seorang yang mandiri, aku diturunkan di gang masuk ke komplek sekolahan karena kakak iparku harus bekerja. Kata kakak iparku sekolah tempat aku mendaftarkan diri tersebut merupakan sekolah favorit, banyak orang sukses yang berasal dari sana. Aku nggak ada pilihan, nggak ada komentar dan juga nggak menolak. Bukan karena nggak berani, bukan karen takut, juga bukan karena dipaksa tapi karena aku nggak punya uang untuk sekolah dan kebetulan sepupuku yang baik hati besedia menyekolahkanku, hitung-hitung sambil menemaninya tinggal di propinsi termuda di Indonesia tersebut. Sekolah favorit.....? Kok nggak keliatan ya?, karena gedung sekolah yang kutemuai tampak lusuh dan tak
bergerbang. Adapun jarak dari jalan raya ke sekolah kurang lebih 1000 meter dengan menanjak bukit kecil, ini cerita sungguhan bukan kaleng-kaleng, aku menapaki bukit kecil ini dengan cepat dan rasa penasaran. Biasanya kalau untuk buah, kulit luar jelek isinya akan sangat manis, dibanding kulit mulus tapi rasa asam.
Beberapa saat kemudian nampaklah gedung mewah yang berdiri dengan kokoh dengan sombongnya, terlihat dari tembok-tembok yang sudah mulai lusuh. “Kok kumuh? Aduh mananya yang dimaksud kakak sekolah favorit? Sekolah jempolan zaman dulu” ucapku dalam hati. Aku melangkah perlahan-lahan mendekati salah satu pintu yang terbuka dengan tulisan “TATA USAHA"
waktu aku mau mendaftar aku nggak dibekali uang pendaftaran, hanya dengan pesan lisan dari kakak iparku. Katanya kalau aku mau mendaftar ke sekolah bilang saja aku adik dari Pak Agus Nge teller bank BDN (BDN adalah singkatan dari Bank Dagang Negara, sekarang namanya BTN). “Selamat pagi pak.....” “Selamat pagi, ada yang bisa dibantu ?” tanya seorang bapak dengan postur tubuh besar. “Pak saya mau mendaftar jadi murid di sekolah ini...” jawab saya. “Apakah berkas sudah disiapkan...”? tanyanya lagi “Sudah pak ...” jawabku sambil menyodorkan ijazah yang aku bawa, “Mana raport dan surat pindah?” lanjutnya lagi “Belom dibawa pak, kata kakak saya Pak Agus Nge nanti surat yang kurang akan di serahkan berikutnya “ “Oh, kamu adeknya pak Agus?, beliau sudah telepon tadi pagi ucapnya. (Rupanya kakak ipar aku selebriti juga disini karena semua orang mengenalnya). Tanpa basa-basi dan banyak pertanyaan akhirnya proses pendaftaran berjalan dengan baik tanpa kendala
“Besok siang kamu sudah bisa langsung sekolah biar nggak ketinggalan pelajaran karena ini sudah catur wulan kedua” ucap beliau lagi. “Baik pak terimakasih”, ucapku kemudian pamit untuk pulang. Dalam perjalanan aku berpikir dari mana aku dapat surat pindah? selama ini aku nggak pernah sekolah masuk SMA. Ikarasi juga baru satu minggu apa aku bisa dapat surat pindah? Bukan karena otakku tak mampu untuk sekolah tapi karena nggak punya uang untuk sekolah. Jadi ini merupakan kesempatan emas yang tidak bisa dilewatkan. "Kesampingkan kesombongan, kesampingkan rasa malu dan rasa-rasa yang lain demi meraih asaku, niatku dalam hati. Setelah sampai di rumah baru aku buka plastik, begitu terkejutnya isinya berupa seragam, bukan terkejut karena kebesaran atau bahan seragam yang jelek, tapi karena warnanya yang begitu mencolok, apalagi kalau dipakai dising hari. “Biru adalah wana kesukaanku tapi bukan biru yang ini” bisikku. Hari pertama aku merasakan enaknya jadi anak putih abu. Ternyata begini rasanya jadi anak putih abu . Siswasiswinya mulai genit, ada yang pakai lipsik, ada yang bawa cermin kecil yang diselipkan di saku baju atau rok, setiap saat selalu bercermin apalagi kalau ada cowok yang memukau.Aduh aku jadi kaku sedangkan aku dengaan gya tomboy dan gya apa adanya jadi malu dan salah tingkah dengan rambut keriting yang cukup aku kuel-kuel jadi sanggul atau sekedar diikat dengan karet sayur.
Pletok…. penghapus mendarat dengan mulus dikepalaku membuatku loncat setinggi meja dan langsung pasang kuda-kuda untuk berantam. Hei…… duduk…. teriak si super killer. Dengan sedikit malu-malu aku kembali duduk, teman-temanku mulai cekikikan melihatku. Hufffff… dasar si super killer, ternyata aku tertidur saat pelajaran matematika, pelajaran yang tidak aku sukai. Aku tahu pasti diantara kalian juga ada yang nggak suka yang namanya pelajaran matematika bukan? Setelah kepalaku benjol akibat penghapus, sang guru super kiler kembali mengajar seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Temanku Nidio mengusap kepalaku dengan lembut, hari pun berakhir begegas pulang sebelum malam menjemput.
Malas sekali rasanya kalau yang namanya hari Rabu dan Kamis,bukan malas belajar, bukan malas ketemu teman atau Ibu Endang, ibu super killer yang selalu membuat kepalaku pusing. Tapi karena seragamku yang sedikit mencolok bila kena matahari, belum lagi olokan temanku si Agung dan Agus, semua mata tertuju padaku saat aku melangkah keluar dari teras rumah.
Dimata mereka sekolahku adalah sekolah alternatif dan yang terakhir apabila sudah tak bisa lagi masuk ke sekolah negeri, sekolah itu merupakan kumpulan anak-anak yang IQ nya dibawah rata-rata. Sakit sekali rasanya hati ini tapi apa mau dikata itulah yang terjadi dan memang nyata kalau aku IQ rendah (mari kita buktikan). Sebelum bapak besarku pulang ke Surabaya, bapak sempat berpesan pada kedua kakakku “Jangan kalian paksakan dia untuk menjadi rangking di kelas karena
kalian yang membiayainya, tapi kalian harus mengerti kalau adik kalian ini nggak pernah sekolah setelah tamat SMP. Papa mohon ya Elsa” ucapnya sambil melihat kearah kakakku yang duduk di meja makan.
kalau adik kalian ini nggak pernah sekolah setelah tamat SMP. Papa mohon ya Elsa” ucapnya sambil melihat kearah kakakku yang duduk di meja makan. “Ia pak” jawab kakakku singkat. “Makasih papa” ucaku dan memeluk erat bapak besarku penuh cinta dan aku berjanji pada papa untuk tidak mengecewakan kedua kakakku. Aku selalu menepis olokan teman-teman sekomplek. Aku bangga jadi anak Kristal. Aku punya alasan tersendiri untuk mencintai sekolahku, aku bangga punya teman yang nggak dimiliki teman yang lain di komplekku Bairopite, mau tahu kenapa
karen
aku punya teman mirip artis Buce deep,dan yang lebih unik lagi temanku ini
seorang tuna runggu dn tuna wicara,ini keunikan yang membuatku semangt untuk
bengerjar yang namanya ilmu setinggi langit seorang tunarunggu dan tuna wicara
bisa menjadi siswa disekolah biasa wowwwwww,,,,, keren sekali dan gimana dia
belkajar sedangkan dia tidak mendengar dan tidak bisa bicara..? itu adalah
kuasa sang Ilahi.
Satu catu wulan berjalan dengan baik,dan aku juga bangga walau
gak pernah sekolah selama empat ahun tapi bisa jadi juara urutan ke 8 di
sekolah,ini baru catur wulan pertama
,,,,semangatku terpicu saat kakak ku banga melihat kegigihandan niatku
sekolah..
Seragam yang takkusukai ,membuat aku
malu,dan itu harus dipaki disetiap hari rabu dan kamis,aaaaa......... apalagi kalau lagi nunggu angkot bersama
teman-temn komplek jalan Laclo 2 block C1 dan C2 yang seragmnya keren putih abu, udah
itu sekolah Negri ditambah lagi
dibelakangnya SMAN 1, SMAN 2 SMAN
3,STM N,pasti aja mereka mlegos walau mereka kenal aku tapi pura-pura ngak
kenal,sedih marah kesel tapi cuman dalam hati saja,
Dan
aku selalu mengatakan pada diriku sendii berjuanglah buktikan suatu saat
seragam yang membuatmu terhina ini akan
menjadi kamu sama dengan mereka yang berseragam
putih abu..atau mungkin lebih cemelang dan berkilau seperti namanya” KRISTAL”( aminnnnnn....).
Wow....
lagi lagi aku bisa kali ini menjad rangkin 2 di kelas,senang rasaya,jadi bangga
dengan apa yang aku dapt dari sibiru yang kontras dengan kulitku saat duduk
dikelas dua dan tiga perasaan malu sedih dan kecewa sudah tidak adalagi,aku
sudah menjaadi bagian dari sekolahku Kristal yang selalu berkilau wlau ditanam
dalam lumpur.
Seorang tuna runggu dan tunawaicar
mambuatku sadar bahwa ilmu itu tidak datang hanya dari sekolah luar biasa tapi
dari niat dan cita-cita,dia tak pernah mengiginkan lahir sebagai tuba runggu
dan tun wicara,tapi kenyataan nya di harus terlahi dengn kekurangn ii.kini jari
jemarku yang lentik bagi penari jaipong sudah fasih menggunakannya agar teman
saya bisa membca dri gerk gerik jari lentikku.dan kami melakukannya bergantin,
semua berjalan muluis sampai gurupun tidk ada yang tau kalau muridnya da yang
tuna runggu dan tuna wicara.
Kelapaku selalu jadi santapan empuk sipenghapus , kali ini bukan karena aku ketiduran,bukan juga lemparan dari bu Endag gugru super killer ,tapi dari pak guru geografi.anak buah guru Umar bakri ini merasa dilecehkan dengan gerak-grik jemari lentikku,kepalaku ini gak pernh jera dengan lemparan-lempran penghapus yang tebal,bukan penghpus kain ini penghpus kayu BROW,,,, sekali kena benjol sakit nya tuh disini,,,,,,( wkkwk dikepala).Kali pak Guru marah dan keluar meninggalkan kelas semua karena ulahku,anehnya kami satu kelas gak merasa bersalah dengna kejadian ini kami malah menikmatinya sebagai lelucon,sambil meniru gaya bapak guru saat melempari kepaku dengan penghpus juga saat marah dan keluar.
Setelah duduk di kelas III kenakalan kami
masih berlanjut kali ini yang jadi sasaran kami adalah wali kelas kami sendiri
Ibu Lussi,aku sadar keusilan itu sudah lewat dari batas,hari ini mata pelajaran
biologi dan gurunya adalalah wali kelas kami sendiri,kejahilan ini rahasia para
kaum adam kaum hawa engak dikasih tau.saat ibu masuk langsung menuju mejanya
ruangan terasa sepi tak seperti biasa gaduh,saat ibu guru membuka laci meja seekor
ular melingkar manis spontn ibu Lusi
loncat dan meninggalkan ruangan sambil menangis,tawa memecah ruang kelas
karena berrhasil menjalankan misi dengan baik.
Ebtanas tahun ini bejalan dengan baik,kami
lulus seratus persen dengan nilai NEM yang pas-pasan,sedih akan meningglkan
guru—guru juga sekolah, ini adalah masa akhir dari kenakalan remaja belajarr
untuk menjadi dewasa saat memasuki bangku kuliah,sedih rasanya berpisah kini
seragan biru yang kontras dengan kulitku harus ku tanggalkan,rasa malu
mengenakannya berubah menjadi kehilangan,masih pengen di olok di ejek saat
mengenakan eragam biru yang kontras dengan kulitku.
Terima kasih bapak ibu guru untuk ilmu dan kesabaran dalam membimbing kami ,terima kasih selalu menjadi kompas dan mercusuar bagi kami.aku tetap akan bangga menjadi muritd takterasa air mata menetes mengingat kisah 20 tahun yang laluAku berbisik lirih saat temanku si tuna rungu dan tuna wicara sudah menjadi desainer di Brazil.saat pertama kali bertemu sahabatku Sonya Lay Gomes dan Gil yang transit ke thailan untuk tugas kantor.
Komentar
Posting Komentar